FEATURE DALAM JURNALISTIK

 

FEATURE DALAM JURNALISTIK

 


A.   Pengertian Feature

Feature adalah salah satu jenis tulisan atau karya jurnalistik, selain opini dan berita. feature (baca: ficer) merupakan tulisan yang awet, tidak akan basi, tetap aktual, karena menggabungkan fakta, opini dan gaya bahasa sastra (berona, colorful words) yang menambahkan “unsur drama” dan mengisahkan kejadian atau mengulas peristiwa. Secara bahasa, sebagai kata benda (noun), feature bermakna ciri, sifat, keistimewaan, segi, corak, artikel, karangan dan film utama. Sebagai kara kerja (verb), feature berarti mengutamakan, menonjolkan dan membayayangkan (Azwar, 2018)

Feature belum memiliki definisi yang tegas dalam khanzana bahasa Indonesia. Hal ini seperti yang disampaikan Sularto (2013) bahwa dalam media cetak feature belum pernah didefinisikan secara pasti melainkan segala bentuk tulisan segala bentuk tulisan selain artikel (kolom) dalam media cetak khususnya Koran yang bukan berita (news). Digolongkan sebagai feature.

Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka mengartikan feature sebagai karangan yang melukiskan suatu pernyataan dengan lebih terperinci sehingga apa yang dilaporkan hisup dan tergambar dalam imajinasi pembaca. Dari pengertian ini sangat jelas, bahwa feature itu ditulis dengan perinci. Selain itu, feature juga lebih banyak menggunakan bahasa-bahasa deskriptif.

Sementara itu, Hikmat dan Purnama (dalam Azwar, 2018) menyatakan, bahwa feature bisa berupa beria biasa dan juga bisa berupa karangan dengan syarat-syarat tertentu. Jika berupa berita, ia bukanlah dalam pengertian biasa, bukan sekadar berita faktual, matter-of-fact news, melainkan berita yang dibuat menarik dengan dibubuhi unsur human-touch (sentuhan perasaan manusia), ditulis secara menarik, atau memang berita itu sendiri menarik.

Adapun menurut Sumadiria (2005:150) menyatakan, bahwa feature adalah cerita atau karangan khas yang berpijak pada fakta dan data yang diperoleh melalui proses jurnalistik. Feature suatu cerita atau karangan khas karena ia bukanlah penuturan atau laporan tentang fakta secara lurus atau lempang sebagaimana dijumpai pada berita langsung.

 

B.   Kerangka Feature

Sama halnya dengan format penulisan berita langsung, menulis feature juga harus mengikuti pola yang disyaratkan. Jika pola yang diambil piramida terbalik, maka akan ada judul, lead (teras berita), perangkat, tubuh dan penutup. Teras (lead): Berbeda dengan lead berita langsung yang berisi intisari, lead pada feature boleh tidak berhubungan dengan judul asalkan fungsinya tetap yakni: (1) menarik pembaca untuk mengikuti cerita dan (2) membuat jalan agar alur cerita lancer.

Ada 8 jenis menurut Jelantik (2017) yang selama ini sering dipergunakan oleh para penulis berita feature yakni sebagai berikut.

1.    Lead ringkasan; biasanya untuk menulis berita keras.

2.    Lead yang bercerita; jenis ini disukai oleh wartawan yang biasa menulis cerpen atau novel.

3. Lead deskriptif; lead jenis ini kekuatannya terletak pada kemampuan penulisan untuk melukiskan atau menggambarkan sesuatu. Tujuan lead ini untuk memberikan kesan lebih mendalam terhadap seorang tokoh yang akan diangkat oleh penulis.

4.    Lead Kutipan; bertujuan untuk memunculkan intro yang menarik.

5. Lead Pertanyaan; lead ini jika dipergunakan dengan tepat akan bisa menambah keingintahuan pembaca. Biasanya jika sang wartawan sulit untuk menentukan lead deskriftif.

6.    Lead menuding langsung; ciri lead ini adalah kata anda dalam kalimat.

7. Lead penggoda; lead ini secara umum bertujuan untuk mengoda pembaca dengan harapan tertarik dengan tulisan atau berita yang disajikan.

8.    Lead gabungan; lead ini merupakan gabungan antara lead deskriptif dengan kutipan.

9.    Tubuh; isi feature terletak di bagian tubuh berita ini. Di sinilah dikembangkan materi yang diperoleh. Pengambangannya sepenuhnya tergantung dari kemampuan penulis dalam menyampaikan kreativitasnya. Namun demikian perlu diketahui bahwa penentuan panjang masing-masing alinea atau paragraf hendaknya mendapat perhatian. Alinea atau paragraf yang terlalu panjang bisa menggriing pembaca pada kondisi bosan.

10. Penutup; menutup feature harus mempertimbangkan ketepatan. Sebab di sinilah sesungguhnya kekuatan berita feature. Ada beberapa jenis penutup seperti yang disampaikan sejumlah praktisi jurnalis yakni:

a.    penutupan ringkasan

b.    penutupan penyengat

c.    penutup klimak

d.    tak ada penyelesaian

  

C.   Jenis-jenis Feature

Berdasarkan sifat isinya, menurut Erwan dan Rasyid (2017) feature dapat digolongkan menjadi beberapa jenis, sebagai berikut.

1. Bright; adalah tulisan pendek yang kaya akan muatan human interest, biasanya ia bercerita tentang sesuatu kejadian.

2.    Profil sketsa pribadi; atau sketsa pribadi adalah cerita tentang seseorang sebagaimana halnya sketsa, ia bukanlah gambar yang lengkap. Mungkin feature itu hanya bercerita tentang karier orang yang bersangkutan, percintaan dan segi lain dari tokoh tersebut.

3.    Pengalaman pribadi; feature pengalaman pribadi adalah cerita yang isinya pengalaman yang dirasakan sendiri oleh penulis. Pengalaman yang layak untuk dijadikan feature seperti hendaknya pengalaman yang tidak bersifat “biasa-biasa”. Walaupun tidak perlu merupakan pengalaman yang sungguh luar biasa.

4. Feature mengajarkan; sesuatu adalah tulisan yang menmaparkan hal-hal berupa persiapan, peralatan, dan tindakan yang harus dilakukan untuk mengerjakan dan bahkan membuat sesuatu.

5.    Artikel ilmiah popular; feature jenis ini adalah tulisan yang menceritakan suatu masalah dengan menggunakan sumber-sumber ilmiah buku, hasil penelitian, atau paper seminar sebagai refrensi. Tema-tema dari ilmu pengetahuan alam, teknologi, dan bahkan dari bidang pengetahuan sosial dapat dipilih untuk tulisan ilmiah popular.

6. Feature sejarah; adalah kisah pendek yang mengungkapkan kembali peristiwa bersejarah yang “jauh” dari ingatan pembaca pada suatu saat, tapi tanpa disertai analisis. Ia betul-betul hanya berupa pengungkapam kembali catatan sejarah, tanpa interprestasi dan pendapatan penulisanya.

7. News feature; mencoba untuk membuka background masalahnya agar pembaca mendapatkan pemahaman yang lebih jelas dengan memaparkan jawaban how dan why lebih dari yang dipaparkan hardnews. Dengan kata lain, news feature menyodorkan fakta yang membuat orang mengerti duduk perkara suau berita.

8.    Opinion news; adalah berita mengenai pendapat seseorang, biasanya pendapat para cendekiawan sarjana, ahli atau pejabat, mengenai suatu hal peristiwa, dan sebagainya.

9.  Investigation news; adalah berita yang dikembangkan berdasarkan penelitian atau penyelidikan dari berbagai sumber.

 

D.   Karakteristik Feature

Feature merupakan berita yang berfungsi sama dengan berita umunya, tetapi dengan gaya bahasannya yang terkesan seperti seni adalah ciri khas dari feature. Target yang ingin dicapainya adalah perasaan pembaca bukan rasio, seperti sasaran berita umumnya.

1.    Kreativitas (creative).

Berbeda dari berita (hardnews), feature memungkinkan jurnalis menciptakan sebuah ceita. Cerita feature dicitrakan sebagai cerminan karya kreatif individual seorang penulis.

2.    Information.

Feature bisa memberikan informasi kepada masyarakat mengenai situasi atau aspek kehidupan yang mungkin diabaikan dalam kemasan informasi si berita hardnews. Misalnya tentang sebuah museum atau kebun binatang yang terancam tutup.

3.    Menghibur.

Dalam persaingan program televisi yang sangat ketat saat ini, feature menjadi alternatif untuk meng-counter program sinetron, reality show, dan sebagainya, karena memiliki segmentasi audiensi yang berbeda. Bagi namun menghadirkan sentuhan perasaan manusia.

4.    Awet (timeless).

Berita (hardnews) mudah sekali “pernah” dimakan waktu, tetapi feature bisa ditayangkan kapan saja bahkan berkali-kali disiarkan pun masih tetap menarik perhatian pemirsa. Karena dapartemen programming televisi tahu bahwa nilai cerita feature tidak akan musnah dimakan waktu. (Fachruddin, 2017).

 

E.    Teknik Penulisan Feature

Dalam menulis feature ada sejumlah unsur penting yang menunjang penulisan feature yang baik. Unsur itu adalah deskriftif, fantasi dan imajinasi, anekdot atau humor singkat dan kutipan (Azwar, 2018)

1.    Deskriptif

Objek digambarkan secara perinci, yang diamati melalui pancaindra. Penulisan deskriktif merupakan gabungan beberapa kecakapan penulisanya dalam mengumpulkan bahan reportase, kemampuan observasi yang tinggi, pengetahuan tentang manusia sesuai dengan pengalaman reportase dankemampuan yang baik untuk meramu kata-kata secara singkat dan kutipan.

2.    Fantasi atau Imajinasi

Penulisan feature membutuhkan imajinasi yang baik untuk menjahit kata-kata dan rangkaian kata menjadi cerita yang menarik. Dalam hal ini dibutuhkan kemampuan bercerita yang baik. Fantasi atau imajinasi dalam menulis fiksi. Fantasi atau imajinasi dalam menulis feature tetap berangkat dari realitas, karena feature bukan karya fiksi

3.    Anekdot atau Humor Singkat

Agar tulisan tidak menjadi kering, perlu disisipkan anekdot atau humor sehingga feature menjadi segar dan tidak terkesan berat bagi pembaca. Menyisipkan humor dalam feature tentu saja tidak tidak bisa lepas dari konteks pembahasan feature itu sendiri. Anekdot yang disispkan harus memiliki relevansi dengan tulisan itu sendiri.

4.    Kutipan

Untuk penyegaran dibutuhkan kutipan, bisa dari hasil wawancara yang menarik dan autentik, bisa kutipan puisi atau mungkin kutipan syair lagu. Kutipan ini adalah hal-hal yang terkait dengan materi, agar apa yang dikutip itu tidak sendiri, terlepas dari tulisan.


F.    Perbedaan Berita dengan Feature

Berita merupakan tulisan yang bertolak dari keyabtaan peristiwa yang baru terjadi, dekat, dan menarik perhatian pembaca, serta ditulis dengan memperhatikan unsur 5W dan 1H dengan gaya yang lugas dan formal. dengan gaya yang lugas dan formal. Bila rumusan ini yang digunakan maka dalam tulisan terdapat unsr sebagai berikut.

1.    Unsur peristiwa nyata yang terjadi di dalam masyarakat.

2. Dekat dengan pembaca, artinya peristiwa itu berada dalam wilayah perhatian atau kepentingan pembaca walaupun peristiwa itu terjadi di Somalia atau di Bosnia.

3. Menarik perhatian pembaca, artinya peristiwa itu mempengaruhi perasaan dan pikiran pembaca karena lucu, aneh, menyedihkan, menyinggung perasaan, masalah moral, seksual, terkait dengan kepentingan pribadi, golongan atau bangsa.

4.   Ditulis dengan menerapkan unsur 5W dan 1H, yaitu apa, siapa, mana, bilamana, mengapa dan bagaimana.

5.    Disiapkan dengan gaya yang lugas dan dengan menggubakan bahasa baku.

Kelima unsur itu tidak semuanya dimiliki oleh tulisan feature. Unsur yang sama dengan berita adalah.

1)    unsur peristiwa nyata.

2)    dekat dengan pembaca,

3)    menarik perhatian pembaca.

4)    feature ditulis tidak terkait dengan 5w dan 1h, tetapi mungkin hanya memperhatikan beberapa unsur apa yang dipilih penulis.

 

DAFTAR PUSTAKA

Azwar 2018. 4 Pilar Jurnalistik Pengetahuan Dasar Pengetahuan Jurnalistik. Jakarta:                     Prenadamedia.

Erwan dan A. Rasyid. 2017. Jurnalistik Praktik Kontemporer. Cimanggis: Prenadamedia Group.

Fachruddin, Andi. 2017. Dasar–dasar Produksi Televisi, Jakarta: Prenadamedia Group

Jelantik, A.A. Ketuk. 2017. Aktivis Jurnalistik Sekolah. Yogyakarta:CV Budi Utama

Sumandiria, A.S. H. 2005. Bahasa Jurnalistik. Simbiosa Rekatama Media.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KESALAHAN DALAM PENGGUNAAN BAHASA JURNALISTIK

MENULIS BERITA DALAM JURNALISTIK

KODE ETIK JURNALISTIK